Tuesday, 9 August 2016


Wahh.. siang yang seru kayaknya…


Pernah merasa bingung tentang keahlian apa yang sebenarnya kita punya? Sebenarnya saya jago apa? Saya cocoknya nanti jadi apa? Saya suka ini, tapi juga suka itu.

Tidak heran, banyak anak SMA yang galau kalau harus pilih jurusan. Pilih jurusan itu susah. Ada yang pikir juga jurusan kuliah itu sembarang saja yang penting diterima,  yang penting mak sama bapak bangga. Baru pas lulus bingung mau kemana. Kuliah sudah teknik sipil, eh akhirnya kerjanya di bank. Mau bagaimana lagi, daripada menganggur. Kalau saya tidak makan Agang mau tanggung jawab?

Banyak orang yang begitu. Kita terbiasa belajar banyak hal di sekolah. Mata pelajaran yang macam – macam. Bahasa inggris belum lancar disuruh belajar bahasa jerman atau bahasa arab. Banyak yang beranggapan semakin banyak mata pelajaran yang kita tahu maka, semakin pintar kita di masa depan. Padahal, saat hari H-nya kita bingung mau kemana. Ya kita bisa melukis, bisa memasak, bisa bahasa Arab juga. Kan kita bingung mau jasi seniman, koki, atau penerjemah?

Saya rasa banyak dari kita yang dengar sekolah itu tidak menjamin masa depan seseorang menjadi berhasil. Padahal, kita tahu kalau “pendidikan itu penting”.

Oke, Agang tahu kalau biaya pendidikan itu tidak murah? Nah, agang capek – capek kuliah tapi kalau ujung – ujungnya tidak ada yang didapat, buat apa? Nanti, pas mau kerja, bingung? Banyak juga orang yang tanpa menempuh pendidikan formal justru bisa meraih keberhasilan.   Banyak orang tua yang tidak menyadari ini. Mereka meminta semua mata pelajaran anaknya mendapat nilai bagus demi memburu rangking 10 besar.

Sekarang ada istilah yang baru saya tahu itu adalah “Jack of All Trades but Master of None”. Artinya kurang lebih untuk orang – orang yang memiliki keahlian di banyak bidang, tapi tingkat keahliannya kalau diibaratkan di game itu hanya sampai level medium. Tidak sampai level Expert. Istilahnya belum menguasai satupun. Mungkin kita dididik seperti ini.
Bayangkan, kita sudah dari kecil dikasi banyak pelajaran. Secara kuantitas mungkin banyak tapi secara kualitas masih jauh dibawah rata – rata. Berapa banyak dari kita yang masih ingat pelajaran sekolah?

Mungkin ada desainer baju seperti  Bayu Santoso namun akhirnya gagal berkembang karena dia terlalu sibuk memperbaiki nilai akuntansinya.


Mungkin bisa saja bangsa ini banyak melahirkan generasi seperti Andre Surya, namun bukannya mengasah kemampuan membuat animasinya, dia terlalu sibuk mengejar ketinggalannya dalam hafalan sejarah.


Mungkin bisa saja Indonesia juga punya banyak bakat seperti Christiawan Lie, namun terabaikan karena terlalu sibuk belajar kimia. 


Tapi, bisa saja pengetahuannya dibanyak bidang justru yang menjadikannya lebih unggul daripada yang lain. Mungkin, seperti Steve Jobs memiliki pengetahuan yang banyak sehingga dia mampu membuat produk yang berselera tinggi terus inovatif.    


Banyak orang juga yang berusaha jadi orang lain. Mereka melihat pekerjaan orang lain dan menurutnya bagus terus ikut – ikutan. Padahal, bukan keahliannya.

Jadi, intinya kita merenung beberapa menit, sebenarnya apa bakat dalam diri kita? Karena, yang saya tahu bakat yang ada di diri kita itu merupakan modal buat kedepan. Dan itu mengapa kita harus menigkatkan skill kita. Terus kalau sudah di level expert bagaimana? Sedangkan ilmu itu tidak habis – habis. Teruslah perdalam kemampuan itu. (macam film film silat).. 

 Tapi, ada orang – orang yang hanya punya satu bidang tetapi pengetahuannya benar – benar dalam atau kata lain dia sudah berada di level Expert. Mereka pasti focus pada satu bidang. Jago olahraga? Coba jadi atlet, jangan belajar akuntansi. kalau sudah focus pada satu hal yang kita bisa dan suka, terus asah. Jangan cepat puas, karena masih banyak orang yang lebih jago.


Coba meraih level expert itu. Sekarang, bidang atau profesi apa yang Agang kuasai?  

4 komentar: